PENGERTIAN ONTOLOGI, EPISTOMOLOGI, AKSIOLOGI dan METODOLOGI
1. ONTOLOGY
Ontologi
berkaitan dengan pertanyaan mengenai apa yang ada entitas atau dapat dikatakan
ada, dan bagaimana badan tersebut dapat dikelompokkan, terkait di dalam
hirarki, dan dibagi menurut persamaan dan perbedaan .
Adapun
pengertian menurut bahasa, Ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on/ontos
= being atau ada, dan logos = logic atau ilmu. Jadi,
Ontologi dapat diartikan : The theory of being qua being (teori
tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau Ilmu tentang yang ada
(Kusumaningrum, dkk, 2009 : 2). Dengan kata lain, Ontologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan
kepada logika semata. Adapun pengertian menurut istilah, Ontologi adalah ilmu
yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality
(kenyataan/realitas paling akhir) yang berbentuk jasmani/kongkret maupun
rohani/abstrak (Bakhtiar, 2004, dalam Kusumaningrum, dkk, 2009 : 2).
2.
EPISTIMOLOGI
Epistemologi
juga disebutkan sebagai salah satu cabang besar dari filsafat sebagai induk
ilmu pengetahuan yang mencakup semua ilmu khusus, setelah Ontologi dan kemudian
menyusul Aksiologi. Secara etimologis, istilah Epistemology merupakan
gabungan kata dari bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme
artinya pengetahuan, sedangkan logos berarti pengetahuan sistematik atau
ilmu (Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2011 : 79). Dengan demikian,
Epistemologi dapat diartikan sebagai suatu pemikiran mendasar dan sistematik
mengenai ilmu pengetahuan. Webster Third New International Dictionary
mengartikan Epistemologi sebagai “The study of method and ground of
knowledge, espicially with reference to its limits and validity”, atau
kajian tentang metode dan dasar pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan
batas-batas dan tingkat kebenarannya. Dengan kata lain, Epistemologi merupakan
cabang Filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata cara, teknik, atau
prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan (Adib, 2010 : 74). Menurut Musa Asy’arie
(dalam Kusumaningrum, dkk, 2009 : 4), Epistemologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang
sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada
suatu obyek kajian ilmu. Jika Ontologi juga disebut dengan “Teori Hakikat”,
maka Epistemologi juga disebut dengan “Teori Pengetahuan”.
Dari
beberapa pertanyaan diatas, sebenarnya pertanyaan utama Epistemologi adalah apa
yang benar-benar sudah diketahui dan bagaimana cara untuk mengetahuinya?
Epistemologi tidak peduli apakah lukisan di depan mata adalah penampakan belaka
atau bukan.
3 AKSIOLOGI
Aksiologi
merupakan cabang filsafat ilmu
yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang
berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi
dipahami sebagai teori nilai. Jujun S.Suriasumantri mengartika aksiologi
sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang
diperoleh. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk
pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. sedangkan
nilai itu sendiri adalah sesuatu yang berharga, yang diidamkan oleh setiap
insan.
Aksiologi
adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi
Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya
dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia
kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya
dan di jalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang
mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak
benar.
4 METODOLOGI
Metode, menurut Senn (dalam
Suriasumantri, 1984 : 119) merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui
sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Sedangkan Metodologi merupakan
pengkajian dari peraturan-peraturan dalam metode tersebut (Senn, 1971 : 4,
dalam Suriasumantri, 1984 : 119). Jadi Metodologi Ilmiah merupakan pengkajian
dari peraturan-peraturan dalam metode tersebut, atau pengetahuan tenang
berbagai metode yang dipergunakan dalam penelitian, dengan kata lain,
Metodologi merupakan sebuah kerangka konseptual dari metode tersebut.
Metodologi meletakkan prosedur yang harus dipakai pada pembentukan atau
pengetesan proposisi-proposisi oleh para ilmuwan yang ingin mendapatkan
pengetahuan yang valid (dalam Triatmojo). Dengan demikian, Metodologi juga
menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu
metode. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam
wilayah Epistemologi. Metodologi secara filsafati termasuk dalam
Epistemologi.
Dapat
dijelaskan urutan-urutan secara struktural-teoritis antara Epistemologi,
Metodologi dan metode seperti yang diungkapkan oleh Kusumaningrum, dkk (2009 :
6) sebagai berikut: Dari Epistemologi, dilanjutkan dengan merinci pada
Metodologi, yang biasanya terfokus pada metode atau teknik. Epistemologi itu
sendiri adalah sub-sistem dari Filsafat, maka metode sebenarnya tidak bisa
dilepaskan dari Filsafat. Filsafat mencakup bahasan Epistemologi, Epistemologi
mencakup bahasan Metodologis, dan dari Metodologi itulah akhirnya diperoleh
metode. Jadi, metode merupakan perwujudan dari Metodologi, sedangkan Metodologi
merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam Epistemologi.